Kamis, 12 November 2020

ARTI SEBUAH PENGHIANATAN PADA KAUM BURUH

Dari 100% Buruh yang bekerja. Ayo coba lihat dan munculkan datanya lalu kita hitung bersama, pada tahun yang sama di sahkannya undang-undang Cipta Kerja ada buruh yang meninggal dunia, memasuki masa pensiun, PHK dengan alasan efisiensi dan PHK karena perusahaan merger. Ada berapa banyak mereka yanng mengalami hal tersebut di tahun ini dan ada berapa persen dari jumlah tersebut punya masa kerja 24 Tahun atau lebih.

Artinya apa, buruh yang pada tahun ini mengalami musibah meninggal dunia, PHK karena efisiensi, merger, dan yang siap-siap menikmati masa pensiun sambil membayangkan hari-hari indah kedepannya juga berangan-angan menikmati jerih paya kerja selama 24 Tahun bahkan lebih. Dengan harapan menerima pesangon 32,2 kali upah.

Senin, 26 Oktober 2020

KASUS VICO INDONESIA DENGAN MASYARAKAT PENGGARAP LAHAN DESA SEMANGKO KM.5/KM.28 KECAMATAN MARANGKAYU KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA

Report

(Diajukann kepada Komisi Nasional Hak Asasi Manusia Indonesia-KOMNAS HAM)

Oleh: 

Fadli Noch & Mohammad Nasir

BAB I

PENDAHULUAN

A.           Latar Belakang

Komnas HAM menerima pengaduan dari masyarakat sejak tahun 2005 dan sudah mengirimkan permintaan informasi dan klarifikasi sebanyak 2 kali namun sampai Desember 2008 belum ada tanggapannya. Hingga akhirnya pada bulan desember 2008 sdr. Muchran selaku kuasa masyarakat melakukan pengaduan langsung dan meminta difasilitasi pertemuan (mediasi) dengan perusahaan dan pemerintah daerah serta provinsi terkait permasalahan KM 28 tersebut dimana dengan tegas pengadu menolak hasil bentukan tim pemda Kutai Kartanegara yang diindikasikan penuh rekayasa dan intervensi, hingga mengharapkan pihak Komnas HAM untuk turun tangan membantu para warga penggarap yang menjadi korban perusahaan-perusahaan besar, mereka juga melihat terjadi perlakuan diskriminatif oleh Vico Indonesia dimana KM 10 yang mengalami erosi yang sama dengan skala yang lebih kecil justru diberikan ganti rugi sebesar 2 milyar rupiah, kenapa KM 28 sampai sekarang tidak jelas tindak lanjutnya.

ESENSI PERJUANGAN BURUH

Oleh: Fadli

(Tulisan ini sebuah opini saja yang pernah di posting di akun facebook saya untuk memperingati hari buruh “May Day” 1 Mei 2010 dan sepertinya masih relevan jika dikaitkan dengan perjuangan kaum buruh menentang Omnibus Law Cipta Kerja). 

Kemenangan suatu perjuangan kaum buruh atas kesewenag-wenangan pengusaha bukan hanya merupakan kejayaan untuk kaum buruh itu sendiri tetapi lebih luas untuk bangsa dan negara. Dimana kemenangan itu sekaligus mendorong perubahan dalam dogma-dogma lama mengenai perilaku pengusaha yang selama ini di backing negara (pemerintah). Secara nyata perjungan itu menunjukkan kapasitas kaum buruh menuju kemasa pembebasan dan ketidak terikatan terhadap norma-norma penjajahan yang bersipat mengatur dan ingin diikuti apa yang menjadi kehendak. 

Minggu, 25 Oktober 2020

LACK OF TRANSPARENCY HINDERS FIGHT AGAINST LOGGING MAFIA ADIANTO P. SIMAMORA, THE JAKARTA POST, JAKARTA | TUE, 04/20/2010 9:10 A

Lack of transparency hinders fight against logging mafia

Adianto P. Simamora, The Jakarta Post, Jakarta | Tue, 04/20/2010 9:10 AM | National A | A | A | A lack of public data on illegal logging cases could prove to be the undoing of the government’s plans to root out illegal logging syndicates in the country, activists said. Activists from the Natural Resources Law Institute (IHSA), which recently published its annual report on illegal logging cases in Indonesia, said organized crime syndicates that masterminded illegal logging were difficult to trace. “In our experience, the most difficult task is to get data on illegal logging cases. Officials seem reluctant to release it to the public,” said Fadli Moh. Noch, an IHSA researcher dealing with illegal logging in East Kalimantan, on Monday. “Until now, it remains unclear which institution manages the data on illegal logging cases.” The IHSA said it had obtained data on illegal logging cases from at four institutions, the police, the regional forestry office, the provincial prosecutor’s office and the high court. Fadli said organized crime syndicates could have infiltrated the forestry permit process because many companies that were cutting down trees did not have Environmental Impact Analysis (Amdal) documents, which is required in filing for permission to log. “By law, it is impossible for companies without the Amdal document to operate in a forest, but the fact is that we keep finding many companies cutting down trees without documentation. This is also the doing of the forest mafia,” he said. He said another indication that corruption had infiltrated the government was the lenient enforcement of illegal logging laws. “Most illegal logging suspects are field operators. The average punishment [for such convicted suspects] is typically less than two years,” he said. Researcher Achmad Djefrianto questioned the government’s claim that illegal logging had decreased of late. “How could the government have calculated an increase or a decrease if they don’t have good records or data,” he said. The IHSA published illegal logging cases in Jambi, West Kalimantan and East Kalimantan, from 2007 to 2008. In East Kalimantan, police data shows that forest crime, including illegal logging, hit 314 cases in 2007, of which 187 were handed over to the East Kalimantan prosecutor’s office. In 2008, there were 220 cases, 92 of which were brought to the prosecutor’s office. However the city’s forestry office recorded only two illegal logging cases in 2008. President Susilo Bambang Yudhoyono last month ordered a taskforce to investigate forest crime as part of an effort to save Indonesia’s remaining rain forests. A member of the Judicial Mafia Taskforce Mas Achmad Santosa said Sunday the taskforce was studying controversial verdicts in illegal logging cases, including that of fugitive Adelin Lis, who fled the country after the Supreme Court sentenced him to 10 years in prison. President Yudhoyono issued a 2005 instruction tasking 18 departments to monitor and evaluate illegal logging, but the effort has not produced names of any major perpetrators. A coalition of activists including the Indonesia Corruption Watch, the Indonesian Environmental Forum, Kalimantan-based Save Our Borneo and Sawit Watch have repeatedly called on the government to root out and take stern action against those masterminding illegal logging. They said corruption involving government officials and corporations had damaged the country’s forest through illegal logging and license brokering for forest conversion.https://www.thejakartapost.com/news/2010/04/20/lack-transparency-hinders-fight-against-logging-mafia.html

"PEJABAT PELANGGAR SUMPAH"

Kenapa Indonesia Tidak Maju....???

Kenapa Singapura maju, Korea Selatan maju, Taiwan maju, Israel Maju ??? Karena ada yang mereka takuti. Taiwan takut sama Cina Daratan, Korea Selatan takut sama Korea Utara, Singapura takut karena mayoritas orang Tionghoa di tengah lautan Melayu, Israel takut karena di kelilingi bangsa Arab.

Artinya kalo negara-negara ini tidak menjadi hebat, tidak mempersiapkan diri sehandal mungkin maka sudah pasti dia akan tergilas, diberangus dan musnah ditengah-tengah wilayah yang mengelilinginya.

Lalu bagaimana dengan Indonesia...???

Kalau Indonesia negara pemberani, sebuah negara yang tidak pernah ada rasa takutnya. Bahkan Tuhanpun tidak di Takuti...

Jadi kalau ada yang bertanya kenapa Indonesia "Tidak Maju" jawabannya karena Tuhanpun tidak di takuti...

Lihat saja, berapa banyak pemimpin negeri ini dari tingkat Daerah sampai pejabat tinggi Negara yang ketika dilantik menjalani prosesi sumpah dengan menyebut nama Tuhan..menggunaan kitab suci pula.. (Alquran, Injil dst). Tapi toh faktanya bankak terjaring OTT (sudah begitu dipersoalkan pula istilah OTT), berapa banyak masuk bui, berapa banyak bolak balik KPK...??? pasti semua tau kenapa..???..

Jadi itulah sebabnya kenapa Indonesia "Tidak Maju" karena Tuhan saja tidak pernah ditakuti.....Satu peradaban bangsa yang tidak ada ditakuti maka tidak akan maju....

Lalu bagaimana dengan Anda....??? apakah Anda takut..???siapa yang Anda takuti...???

"FRAMING TENTANG COVID 19"

Framing tentang Covid 19 khususnya update pertambahan yang terinfeksi, sembuh, dan meninggal setiap hari tersaji. Ketiga kata tersebut hari-hari ini hadir hampir disemua media. Dua kata "terinfeksi" dan "meninggal" di framing sangat jelas dan tegas disebabkan karena Virus Covid-19 dan penyakit bawaan.

Nah, untuk satu kata yaitu "sembuh" setiap hari semakin banyak berdasarkan statistik yang diumumkan. Disampaikan juga dengan narasi yang jelas. Namun, bedanya publik tidak mendapatkan informasi bagaimana seseorang yang dinyatakan terinfeksi karena Virus Covid- 19 bisa sembuh. Baik cara maupun metode pengobatannya. Jika diobati, apa obatnya, belinya dimana, dan bagaimana cara mendapatkannya. Ini penting, sebab banyak publik yang ingin tau dan tentunya ingin sembuh. Harapannya mengenai berita kesembuahan ini disampaikan dengan narasi yang jelas juga, bagaimana orang bisa sembuh dari pandemi ini.

Kenapa untuk dua kata awal di atas yaitu "terinfeksi" dan "meninggal" begitu gamblang, tegas, terang, jelas, dan yakin di share ke publik penyebab utamanya virus covid 19, karena memang kita lagi diperhadapkan pada pandemi ini dan disitu pula bahwa seolah negara hadir di tengah-tengah publik.

Untuk kata "sembuh" begitu samar bahkan hampir tak ada narasi yang keluar dari negara, apa yang dilakukan sehingga kesembuhan tersebut nyata dan bahkan statistiknya meningkat setiap saat (jika ada obatnya, apa obatnya sampaikanlah secara terbuka sehingga yang sembuh semakin banyak).

Dalam hal tersebut negara seolah gagap dan menjadi samar pula. Narasi yang terdengar lantang adalah cara mencegah agar seseorang ataupun publik terhindar dari pandemi Virus Covid-19 ini. Sementara kesembuhan terus diumumkan tanpa disampaikan apa yang menyebabkan orang menjadi sembuh (selain tindakan medis) disitulah sebenarnya keberadaan negara dibutuhkan untuk memperteguh keyakinan bahwa sesungguhnya ada harapan.

Tentu kita paham bahwa bangunan narasi yang disampaikan pada publik adalah "sampai saat ini obat maupun vaksin covid 19 belum ada". Namun faktanya setiap hari diumumkan juga bahwa statistik orang yang sembuh dari pandemi ini meningkat cukup drastis. Lalu apa dan bagaimana sehingga seseorang itu mejadi sembuh. Kiat inilah yang ditunggu dari negara untuk disampaikan pada publik sehingga harapan itu semakin besar dan timbul rasa optimis.

Satu hal yang sama disampaikan secara bersamaan namun didalamnya ada dua hal yang berbeda (kontras) jika bicara penyebabnya.

Terakhir dan mungkin ini menjadi harapan untuk semua, jika ada kata dan pengumuman mengenai perkembangan covid 19 yang "terinfeksi" dan "meninggal" karena penyebab utamanya virus covid 19 dan penyakit bawaan yang diderita. Maka harapan yang sama bagi yang "sembuh" penyebabnya karena ada obatnya dan apa obatnya, tidak cukup hanya disampaikan bahwa statistik yang sembuh meningkat tanpa dijelaskan apa dan bagaimana orang menjadi sembuh, publik menanti.

Singkat kata, setiap hari diumumkan peningkatan orang yang sembuh namun tidak ditau apa yang menyebabkan orang itu sembuh...ajaib.